Melahirkan di Belanda

*Sebuah catatan utk Claire

Setiap anak spesial. Begitu pula tiap kehamilan dan melahirkan punya ceritanya masing-masing.

Kehadiran janin Claire merupakan suatu kejutan ‘kecil’ bagi kami. ‘Kecil’ karena kami memang sudah merencanakan untuk punya anak lagi. Tetapi kejutan karena tidak menyangka secepat itu Tuhan kasihnya 😊

IMG_9881

Sama seperti hamil Martin, periode hamil Claire termasuk lancar. Lemas dan tidak mau komprominya kantung nasiku membuat Martin harus absen dari playground sekitar 5 bulan. (So, Claire, you should say sorry to koko Martin for this 😉)

Karena semua orang bilang bahwa anak ke-2 lahir lebih cepat dari anak pertama, maka kami sudah menantikan Claire dari awal. Mamaku tiba di Belanda saat usia kehamilan 39 minggu. Ngebut, kami ajak mama jalan-jalan dan orientasi kehidupan di Amsterdam ini dalam beberapa hari saja. Namun, hari demi hari berlalu, yang ditunggu belum datang-datang. Sudah lewat due date, masih juga belum datang.

Akhirnya, tengah malam itu perut mengeras juga dengan selang waktu yang singkat. Dan Claire pun lahir pada usia kehamilan 40 minggu 5 hari. Pukul 1 dini hari mulai kontraksi, pukul 4.30 berangkat ke RS. Tiba di RS pk 5.00. Dan Claire sudah nongol pk 5.35! Ternyata yang orang bilang bahwa anak ke-2 lebih cepat maksudnya proses in labour – nya toh….

Karena tiba di RS sudah pembukaan 10, maka dokter tidak sempat memasukkan antibiotik ke tubuhku seperti yang direncanakan sebelumnya. Padahal antibiotik itu diperlukan agar Claire tidak tertular bakteri GBS yang ditemukan dalam urineku saat hamil 37 minggu. Tetapi syukurlah Claire lahir sehat, tidak tertular bakteri itu.

Setelah baby Claire keluar, sama persis seperti melahirkan Martin, placentanya tidak langsung keluar. Menurut dokter, uterusku tipe ‘pemalas’, susah berkontraksi sehingga baby Martin pun dulu susah keluar. Dan, seperti sebelumnya, keluar pendarahan lagi. Kali ini sebanyak 1,8 liter.

Juru medis pun buru-buru melarikanku ke ruang operasi untuk dibersihkan bagian dalamnya supaya pendarahan bisa berhenti. Pukul 7.30 semuanya selesai! Tinggal mommy-nya saja masih teler dan kelaparan.

Saya merasa baru kali ini melahirkan super alamiah karena merasakan keluarnya baby hasil kerja keras sendiri mengejan sekuat tenaga. Sakitnya masih terekam di kepala. Setelah itu pun, penderitaan masih terus berlangsung saat dijahit dan berbagai upaya juru medis untuk menghentikan pendarahan.

Waktu Martin dulu, sakitnya lama saat kontraksi terus setelah pembukaan 10 tetapi bayi tidak kunjung keluar. Setelah bayi dihisap keluar dengan vacuum, aku pun lega dan bebas dari rasa sakit. Aku tidak peduli lagi ketika mereka membawaku ke ruang operasi. Cerita lengkapnya disini.

Terima kasih Tuhanku untuk titipanmu, Clarissa Emma Putri Tindaon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s