Parenting: Resume buku Why Christian Kids Leave Their Faith

Semua orang tau bahwa mendidik anak itu susah-susah-gampang. Sewaktu dibagikan buku “Why Christian Kids Leave Their Faith” oleh gereja IEC di Singapura, aku merasa judulnya menggelitik serta membangkitkan rasa ingin tahu. Saat itu anakku masih di perut dan sekarang setelah usianya 3 tahun baru mamanya menyelesaikan (hampir) seluruh isi bukunya. Dan meskipun Martin masih balita, apalagi adiknya yang baru bisa tendang-tendang perut mamanya, aku ingin punya catatan apa saja yang bisa dipelajari dari buku ini. Semoga jadi bekal untuk aku dan suami dalam membesarkan anak-anak kelak.

Banyak pesan dari buku ini yang sebenarnya kita sudah tau seperti perkenalkan Kristus, membiasakan doa dan ke gereja, serta menjadi contoh & teladan dalam perbuatan. Buat saya, yang baru adalah memberi Kebebasan kepada anak karena pada akhirnya setiap anak harus memutuskan sendiri imannya. Jika imannya dipaksakan, maka suatu hari ia bisa memberontak atau menyangkali imannya tersebut.

Buku ini mengatakan bahwa ortu-ortu Kristen juga mengalami peer pressure, yaitu dimana mereka merasa gagal jika anak-anak mereka tidak “sempurna” dalam Kekristenan seperti ikut-ikutan budaya dunia yang lagi trend dan tidak nampak “kudus” di gereja. Padahal, kekristenan adalah sebuah proses pergumulan dan pertumbuhan, dimana di dalamnya ada jatuh-bangun dan pembelajaran. Oleh karena itu, ortu harus memberi ruang kebebasan kepada anak.

Tom Bisset, pengarang buku ini, menceritakan pengalamannya ketika anak remajanya suatu waktu menolak untuk beribadah minggu. Dia dan istrinya sesungguhnya kaget dan sedih, tetapi mereka berusaha tenang dan meloloskan keinginan anaknya tsb tanpa memperlihatkan wajah yang merengut. Hebat ya? Tetapi tentu saja buku ini tidak mengajarkan untuk membiarkan anak tidak ke gereja lagi seterusnya. Buat saya point nya adalah untuk tidak terlalu mengekang anak. Memberinya waktu untuk berpikir dan juga mengajarkannya tanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambilnya.

Dan ternyata, menurut Bisset, keinginan berbeda atau memberontak pada anak itu adalah sesuatu yang alami dan datang dari Allah. “Pemberontakan remaja berakar pada kebutuhan untuk memisahkan diri dari orangtua mereka. Dan kebutuhan ini berasal dari Allah. Mereka berusaha untuk menggali identitas mereka…… Jika orangtua melawan hasrat yang ditanamkan Allah untuk menjadi orang yang mandiri ini, mereka dapat menunda dan bahkan merusak pertumbuhan emosi dan kejiwaan anak mereka.”

Sedangkan sesuai judul buku ini, Bisset lewat risetnya mengemukakan 4 alasan orang meninggalkan imannya.

Pertama, ada pertanyaan-pertanyaan intelektual yang tidak terjawab. Untuk orang yang meninggalkan iman Kristen karena hal ini biasanya, menurut Bisset, dibarengi dengan kendornya hubungan pribadinya dengan Tuhan. Sehingga pesannya adalah untuk kita semua tidak melupakan jam saat teduh kita denganNya. Sedangkan bagi orang tua, mengajarkan prinsip kekristenan serta mendiskusikan topik-topik yang “sulit” tersebut di tengah keluarga. Saat kita mulai membuka diri, menurut Bisset, itu lebih baik daripada suatu hari anak-anak kita menanyakan hal-hal tersebut kepada orang lain (yang tidak tepat) karena mereka tidak berani membahas hal tersebut dengan orang tuanya.

Kedua, kecewa terhadap komunitas Kristen. Untuk kasus yang ini, Bisset menyarankan untuk orang tua tidak memakai topeng agar setiap orang bisa tampil jujur dan terbuka. Juga memberikan teladan dalam perbuatan karena yang dipermasalahkan dari orang-orang yang kecewa ini adalah praktek riilnya, bukan kerumitan teologis.

Ketiga, hal duniawi yang mengimpit pertumbuhan iman sehingga akhirnya iman itu pun mati. Contoh yang diberikan buku ini adalah ketertarikan kepada lawan jenis bukan pasangannya (perselingkuhan). Yang dapat orang tua lakukan adalah menjadikan keluarga sebagai rumah rohani bagi anak dimana anak merasakan perlindungan dan aman dari himpitan hal duniawi tsb. Caranya adalah dengan menghabiskan waktu bersama anak-anak. Selain itu, mengusahakan anak punya lingkungan pergaulan yang mendukung imannya.

Keempat, selama ini orang tersebut tidak memiliki iman yang sejati. Ini berkaitan dengan yang kubahas di awal tentang iman yang dimiliki seseorang karena warisan orang tua, bukan keputusannya sendiri.

Menurutku, kesimpulan dari buku ini adalah Jadikan mereka Murid. Perlakukan sesuai wataknya. Tidak melulu sesuai dengan cara bagaimana kita dulu dibesarkan. Jangan harapkan kesempurnaan hasil dari didikan kita. Dan, pada akhirnya anak-anak harus membuat keputusan sendiri.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s